|
|
Q: Apakah ada arti tertentu dari nama Durian Juntak? A: Juntak adalah penggalan dari Simanjuntak. Simanjuntak adalah nama keluarga atau marga dari suku atau etnik Batak Tapanuli. Di kalangan etnik itu memang sering juga orang yang bermarga Simanjuntak disapa “Juntak” saja. Kebun ini didirikan, dikelola, dibiayai, dan dimiliki oleh keluarga Simanjuntak dan Ir. Midian Simanjuntak, MBA sebagai kepala keluarga kami. Q: Bagaimana riwayat singkat keberadaan Durian Juntak ini? A: Berkebun durian sudah menjadi obsessi Midian Simanjuntak sejak kuliah di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Orangtuanya memiliki 15 pohon durian kampung di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sejak masih kanak-kanak, dia sudah ikut menemani ayahnya menjaga 15 pohon durian selama musim panen. Bila ada durian yang jatuh, biar tengah malam atau di pagi buta, dia harus bergegas memungutnya, takut diambil oleh orang lain. Di pagi hari, akan terasa nikmat sekali baginya menyantap nasi ketan dicampur durian sebagai sarapan. Hasil penjualan durian sangat berarti bagi keadaan finansial keluarga, bahkan tidak jarang cukup untuk membiayai pengeluaran Midian Simanjuntak ketika kuliah di Bogor (1963 – 1969). Dari pengalaman itu dan kemudian melihat harga durian di Jakarta lebih dari 5 kali lipat dari harga penjualan ayahnya, dia yakin bahwa berkebun durian sangatlah menguntungkan. Sejak itulah timbul keinginannya untuk memiliki kebun durian yang tidak terlalu jauh dari Jakarta. Tujuh bulan bekerja di Departemen Pertanian RI tidak memberikan harapan akan dapat mewujudkan obsessinya, dan pada saat itu dia menyadari pula bahwa bekerja di kantor kurang positif bagi kesehatan jasmani. Dia pindah ke BRI, yang memberikan gaji yang lebih tinggi (Oktober 1970) dan memungkinkan menabung untuk membeli tanah. Pada tahun 1981, ketika Midian Simanjuntak menjabat sebagai Kepala Kantor Cabang BRI di Surabaya, mulailah dia membeli 5 ha tanah di Cariu dengan harga hanya Rp 5 juta. Pada masa itu, daerah Cariu masih merupakan daerah yang terisolasi, sehingga harga tanah amat murah. Oleh karena dia tinggal di Surabaya, maka pembukaan lahan dan penanaman durian belum dapat dilakukan. Januari 1983 dia diberangkatkan oleh BRI mengikuti program MBA di University of Oregon, Eugene (USA), dan disusul oleh magang (internship) di Irving Trust Bank (New York City) selama 6 bulan. Bulan Desember 1985 baru kembali ke Jakarta, dan mulailah mempersiapkan pembukaan kebun durian. Uji-coba dimulai di Bekasi pada tahun 1986 di atas tanah seluas 1,2 HA. Tahun berikutnya menyusul penanaman di Cariu, sekitar 10 HA. Oleh karena Midian Simanjuntak masih terikat pada BRI dan sering dipindah, maka pengelolaan kebun diserahkan kepada orang lain, yang ternyata tidak memiliki kemauan dan kemampuan yang cukup untuk menanggulangi berbagai masalah kebun durian (khususnya jenis Monthong yang amat diminati oleh banyak hama dan penyakit). Tingkat kematian pohon durian amat tinggi, sekitar 50 persen setahun. Dari 951 bibit yang ditanam pada tahun 1987, dalam 10 tahun tinggal hanya 178 pohon. Secara reguler penyulaman terus dilakukan sehingga menguras kantong karena harga bibit pada waktu itu cukup mahal (sekitar US$15, untuk sebesar bibit yang sekarang kami jual Rp 25,000). Barulah pada pertengahan tahun 2001, pengelolaan kebun Cariu sepenuhnya ditangani oleh Midian Simanjuntak. Berkat penelitian yang kuat, kami telah mencapai level pengetahuan, dan profesionalisme yang sekarang. Luas lahan juga sudah meningkat hingga 25 hektare. Q: Apa saja buah yang dihasilkan oleh kebun Durian Juntak? Apakah hanya durian? A: Tanaman utama di kebun Durian Juntak, di atas lahan 25 hektare, saat ini memang durian, sebanyak 2517 pohon. Pada tahun pertama penanaman (1987), banyak juga kami tanam lengkeng Bangkok (dalam bahasa Thailand disebut lamya dan dalam bahasa Inggris disebut longan) dan rambutan Rafiah. Tetapi pada tahun 2002 sebagian kami ganti dengan durian, sehingga yang sisa sekarang hanya 106 pohon lengkeng dan 33 pohon rambutan Rafiah. Berbagai tanaman buah lainnya juga ada, seperti avocado, jambu air, jambu biji, mangga, jeruk bali, nangka, kedondong, manggis, belimbing dan sawo tetapi hanyalah untuk konsumsi sendiri dan bukan untuk tujuan komersial. Q: Selain menanam durian jenis (kultivar) Monthong, apakah Durian Juntak juga menanam durian jenis lain? A: Tidak. Kami hanya mengkhususkan diri menanam durian Monthong, yang berasal dari Thailand dan memiliki arti “bantal emas” atau golden pillow. Dari pengamatan kami di berbagai tempat di beberapa negara dan berbagai publikasi yang pernah kami baca, durian Monthong merupakan durian yang paling populer di dunia. Sebagian besar ekspor durian Thailand adalah durian Monthong. Di kota-kota besar di Indonesia juga pada umumnya supermarket dan toko buah hanya menjual durian Monthong. Harga durian jenis ini juga selalu lebih tinggi dibanding durian Thailand lainnya. Menanam jenis lain kami anggap akan mendatangkan kesulitan dalam pemasaran; misalnya dalam penentuan harga saja sudah sulit karena dapat terjadi kanibalisasi. Kalau harga jenis lain itu murah, durian Monthong kami jadi kurang laku. Sedang bila harganya lebih mahal, mungkin menjadi tidak laku. Q: Durian Bangkok pendek sedang durian lokal atau durian kampung tinggi, apa benar begitu? A: Tidak. Postur durian pada umumnya sama saja. Durian membutuhkan sinar matahari yang banyak, sehingga akan selalu bertumbuh lebih tinggi dari pohon di dekatnya. Itu sebabnya dijuluki King Tree, karena tidak mau kalah pada pohon di sekitarnya. Para petani kita biasanya menanam durian bersama-sama dengan berbagai jenis pohon lain dengan jarak yang amat dekat. Akibatnya, durian mereka akan tumbuh meninggi seperti tiang listrik. Sehingga kita mendapat kesan bahwa durian kampung selalu tinggi. Setelah lebih tinggi dari pohon tetangganya, barulah dia “mengembangkan sayap” seperti payung dibuka dan mulai berbuah. Q: Apakah benar bahwa durian Bangkok lebih cepat berbuah dibanding durian lokal? A: Tidak benar. Pada umumnya usia durian akan berbuah sama saja. Yang membuat durian Bangkok seolah-olah berbuah lebih cepat adalah karena bibit yang ditanam adalah hasil okulasi, yang batang bawahnya sudah berumur 2-3 tahun. Sedang durian lokal berasal dari penanaman biji. Pekebun durian Bangkok juga menanamnya dengan jarak tanam yang cukup jauh, 10-12 meter. Kami sendiri menggunakan jarak tanam 10 meter dengan susunan segitiga sama-sisi, sehingga dalam satu hektar terdapat 115 pohon. Sinar matahari yang cukup membuat pohon durian itu cepat berbuah. Bila durian lokal diperlakukan sama, hasilnya juga akan sama; postur durian yang pendek dan melebar serta cepat berbuah. Bila ingin terlihat fancy, biarkan cabang-cabang bawahnya rendah sehingga nantinya buahnya mencapai tanah. Q: Mengapa Durian Juntak tidak menanam durian unggul lokal? A: Memang sudah banyak sebenarnya jenis durian unggul lokal yang di-release oleh Pemerintah kita (termasuk Monthong telah di-Indonesiakan menjadi “Otong” tetapi jarang yang mau menggunakan nama itu). Namun masih sulit untuk mendapatkan bibitnya dari tangan yang bisa dipercaya. Kesalahan membeli bibit, misalnya tertipu, berakibat sangat fatal. Bayangkan bila kita sudah memeliharanya 5-6 tahun, ternyata kemudian bahwa mutu buahnya lain dari yang diharapkan semula. Alasan lainnya ialah seperti kami katakan sebelumnya, sulit dalam pemasarannya bila kami menanam jenis lain. Sedang durian Monthong sudah demikian terkenal dan sudah banyak penggemarnya. Kami tinggal menyuguhkan durian Monthong yang bermutu lebih tinggi dari durian Monthong impor. Q: Apa benar mutu durian Monthong produksi Durian Juntak lebih tinggi daripada durian Monthong impor? A: Ya. Alasan utama mengapa durian kami bermutu lebih baik dibanding durian impor, karena semua durian yang kami jual adalah durian matang pohon atau biasa dijuluki “jatuhan”. Sedang durian impor, terutama dari Thailand, semuanya adalah durian petikan. Tidak mungkin durian impor adalah durian jatuhan, karena lama perjalanan sejak dari kebun di Thailand hingga mencapai supermarket atau toko buah di Jakarta, bila menggunakan angkutan laut, paling cepat 2 minggu. Hanya durian petikan yang bisa bertahan selama itu. Bila durian tersebut adalah durian jatuhan, maka dalam perjalanan selama 2 minggu pastilah sudah akan retak dan busuk. Durian kami memang tidak murni “jatuhan” karena tidak kami biarkan jatuh dari hijau menjadi agak kecoklatan, yang merupakan pertanda sudah menjelang matang, maka semua durian kami ikat dengan tali ke dahan pohonnya. Dengan demikian, ketika buah durian sudah matang dan copot dari tangkainya, tidak akan jatuh ke tanah. Perlakuan ini mencegah: rusaknya tangkai maupun kulit buah karena terbentur pada dahan atau tanah keras, bergulirnya buah yang jatuh ke tempat lain, membentur buah di bawahnya sehingga ikut copot, dan menghindari kotor terkena tanah atau sampah. Selama musim panen, beberapa kali dalam sehari pekerja kami memeriksa setiap pohon untuk melihat apakah sudah ada yang copot dari tangkainya dan menggantung pada tali pengikatnya. Buah yang sudah copot itu diturunkan, dan kami sajikan ke pihak pelanggan kami. Q: Apakah memelihara durian Monthong lebih mudah atau lebih sulit dibanding memelihara durian unggul lokal? A: Pada umumnya memelihara durian Monthong lebih sulit daripada memelihara durian unggul lokal. Durian Monthong lebih rentan terhadap berbagai hama dan penyakit (dengan perkataan lain: Banyak hama dan penyakit lebih menyukai durian Monthong dibanding durian unggul lokal). Q: Apakah durian Monthong dapat langsung dimakan ketika baru jatuh dari pohonnya? A: Tidak. Pada umumnya, ketika baru jatuh dari pohonnya jarang yang sudah harum sebagai pertanda sudah matang. Dibutuhkan 2-4 hari baru benar-benar matang, tergantung pada besar buahnya: Semakin besar ukurannya akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai benar-benar matang. Bila menginginkan rasanya benar-benar legit (ada rasa “pahitnya”), maka sebaiknya dimakan ketika sudah mulai retak sedikit di bagian “ekornya”. Tetapi ada juga orang yang lebih menyukai durian yang agak “mengkal” dan masih agak keras, terutama orang-orang Thailand. Q: Media massa apa saja yang telah meliput Durian Juntak? A: Di bawah ini kami berikan daftar media massa yang telah meliput Durian Juntak. Kami sarankan, bagi Anda yang menggunakan koneksi internet berkecepatan rendah, seperti dial-up 56K modem, agar lebih hemat, sebaiknya liputan yang hendak dibaca Anda save/simpan ke hard-drive komputer Anda dahulu, baru kemudian membacanya setelah terputus dari internet. Tidak seluruh liputan dapat kami posting di website ini dengan lengkap. Bila Anda ingin membacanya secara utuh dan lengkap, kami hanya dapat menyarankan Anda untuk mengunjungi perpustakaan di kota Anda. Mudah-mudahan lembaga tersebut dapat memenuhi keinginan Anda. Q: Di media-massa mana saja Durian Juntak meng-iklankan produknya? A: * Majalah Pertanian Trubus * Majalah Bisnis Pengusaha * Majalah Tempo * Majalah Gatra * Majalah Warta-Ekonomi * Koran Kompas * Koran Suara Pembaruan * Koran Bisnis Indonesia * Jakarta Post (English Version) * Internet web-site: http://www.juntak.com/ Q: Siapa dan bagaimana target-market dan market-positioning Durian Juntak ? A: Target market kami ialah para penggemar dan pecinta buah durian kelas berat. Mereka sangat mementingkan dan mengutamakan kualitas dibanding harga. Oleh karenanya kami berusaha sekuat mungkin menjaga mutu durian yang kami jual agar selalu prima. Namun, bagi penjualan durian secara utuh, pengecekan mutu tidaklah mudah; walaupun sudah harum dan bunyinya sudah “ngebass” ketika diketuk, masih mungkin terjadi belum semuanya matang. Untuk mencegah kekecewaan customer, kami berikan garansi. Apabila ada pelanggan yang merasa durian kami kurang memuaskan, kami bersedia menggantinya atau mengembalikan uangnya (tentunya durian yang dibeli harus dikembalikan juga kepada kami). Menjaga mutu durian isi jauh lebih mudah, karena dengan melihat penampilannya saja kami sudah tahu apakah daging buah durian itu baik dan enak. Q: Apakah Durian Juntak sudah memiliki outlet? A: Kami baru memiliki tiga outlet: 2 di Jakarta dan 1 di Bandung. Untuk sementara ini, kami baru sanggup melayani Jabotabek dan Bandung saja, karena produksi kami masih relatif sedikit. Bila nanti produksi kami sudah semakin meningkat, baru kami pertimbangkan untuk menambah outlet di luar Jakarta dan Bandung. Durian Juntak (Cafe Durian ~ makan di tempat) Jln Tebet Timur Dalam Raya 119 Tebet, Jak-Sel 12820 Phone: (021) 8312-416 Fax: (021) 8370-0042 SMS: (0813) 1551-9035 PETA -- Lokasi Durian Juntak (.JPG 197 KB) PETA -- Lokasi Durian Juntak (.PDF 266 KB) DKI, Jakarta (Dealer/Pengecer): Restoran Red Corner Jln. Setiabudi Barat No. 1A Phone: (021) 7070-9345 PETA -- Lokasi Red Corner (.JPG 96 KB) PETA -- Lokasi Red Corner (.PDF 138 KB) Bandung, Jawa-Barat (Dealer/Pengecer): Toko Buah QUEEN, Jl. Karapitan 29A Bandung, Jawa Barat Phone: (022) 730-1941 731-7209 Q: Apakah mudah untuk mencapai outlet Durian Juntak? A: Sangat mudah. Outlet pertama (headquarter) mudah dicapai dari segala penjuru Jakarta, karena dekat dengan jalan toll Cawang-Semanggi. Dari Pancoran Tebet Timur Raya. Setelah 250 m ada pertigaan ke kanan masuk ke Jl. Tebet Timur Dalam Raya. Sekitar 500 m dari pertigaan itu, di sebelah kanan, dua rumah setelah Toko Roti “Larisia” akan Anda temukan outlet pertama kami. Outlet kedua, yang berlokasi di Jl. Setiabudi Barat No. 1A, juga mudah ditemukan. Dari Jalan Sudirman, masuk ke Jl. Setiabudi Raya (di sebelah kanan Chase Plaza), 100 m setelah belokan ke kiri, di sebelah kanan akan mudah ditemukan Restoran Red Corner. Sedang yang di Bandung, kiranya juga tidak perlu diterangkan lagi, karena Toko Buah Queen di Jl. Karapitan no. 29A sudah amat terkenal dan dekat ke alun-alun Bandung. Q: Apakah pembelian di satu outlet dapat di-claim di outlet yang lain bila ternyata durian yang dibeli kurang memuaskan? A: Untuk outlet Jakarta, YA. Sedang pembelian di Bandung tidak dapat di-claim di Jakarta atau sebaliknya. Perlu kira-nya kami jelaskan bahwa claim hanya akan dilayani bila durian yang dibeli disertai label asli (tanpa perubahan pada benang pengikatnya) diserahkan kepada outlet kami. Q: Apakah Durian Juntak melayani orang yang ingin makan durian di outlet-nya? A: Mulai awal musim panen tahun 2004 (Desember) kami akan menyediakan fasilitas makan durian di Jl. Tebet Timur Dalam no. 119. Kami akan menyediakan 3 meja dengan 12 kursi (bila diperlukan dapat ditambah) bagi pelanggan yang ingin memakan durian di tempat itu. Kami juga akan menyediakan minuman ringan, kopi atau teh manis. Waktu buka adalah dari pukul 11 pagi hingga pukul 10 malam. Restoran “Red Corner” yang di Jln. Setibudi Barat no. 1A, juga melayani customer yang ingin memakan durian di tempat itu. Sedang toko buah “Queen” di Bandung hanya mengutamakan penjualan durian utuh atau durian isi saja. Namun demikian, apabila customer ingin memakan satu atau dua buah di tempat itu, sambil berdiri, pemilik toko tersebut tidaklah keberatan. Q: Selain berkebun durian, apakah Durian Juntak juga beternak anjing sehingga kadang-kadang mengiklankan anak anjing dobermann? A: Kami memang memelihara anjing dobermann cukup banyak, tetapi bukan untuk tujuan komersial. Tujuan utama adalah untuk menjaga keamanan kebun durian kami. Sekali-sekali anjing tersebut kami kawinkan dan anak-anaknya sebagian kami pelihara dan sebagian lagi kami jual. Q: Apa memang sering terjadi kehilangan durian di kebun sehingga diperlukan anjing dobermann yang terkenal sangat galak itu? A: YA, sebelum-nya sangat sering. Sebelum kami memelihara anjing dobermann, memang banyak kehilangan durian, walaupun sudah menyewa orang untuk menjaganya siang malam. Namun manusia sulit untuk terjaga sepanjang malam. Oleh karenanya kami putuskan untuk memelihara anjing dobermann yang setiap saat siap-siaga “menyambut” setiap orang, terutama pencuri yang masuk ke kebun. Hasilnya jauh lebih baik dibanding penjagaan oleh tenaga manusia. Para pencuri kelihatannya lebih takut pada anjing dobermann ini daripada penjaga manusia. Q: Mengapa memilih anjing dobermann, bukan anjing jenis lain, seperti German Shepherd (Herder), Bulldog, Rottweiler atau Pitbull? A: Kebetulan kepala keluarga kami, Midian Simanjuntak, di tahun 70-an menonton film berjudul “The Doberman Gang I & II,” yang menggunakan anjing-anjing dobermann untuk merampok bank. Film itu membuat Midian Simanjuntak sangat terkesan dan ingin memelihara anjing doberman. Keinginan itu baru dapat terwujud di tahun 1989. Sejak itu keluarga kami jatuh cinta pada anjing dobermann, dan tidak pernah lagi memelihara anjing jenis lain. Sebagai anjing penjaga, kami nilai bahwa dobermann adalah salah satu yang terbaik: sangat waspada (alert), gesit (speed), pemberani (fearless), kuat, atletis, dan cerdas. Q: Banyak orang mengatakan bahwa anjing dobermann sangat berbahaya serta merupakan “one man dog”. Apakah hal itu benar? A: Ya dan tidak. Karakter anjing pada dasarnya ditentukan oleh perlakuan yang dialaminya. Bila sering mendapat perlakuan kurang baik, maka dia akan menjadi anjing yang berbahaya. Tetapi anjing yang diperlakukan dengan baik, akan berkelakuan baik juga. Anjing-anjing dobermann kami berkelakuan ramah kepada semua orang yang sudah dikenalnya, seperti anggota keluarga kami dan para pegawai tetap di kebun. Tetapi kepada orang yang tidak dikenal dan tidak pernah bergaul dengan anjing-anjing tersebut memang sangat galak dan memang sudah lumayan jumlah orang yang pernah merasakan gigitannya. Q: Apakah mahal biaya pemeliharaan anjing dobermann? A: Biaya pemeliharaan anjing dobermann memang tidak murah, tetapi kami perkirakan masih tetap lebih murah dibanding nilai durian yang hilang setiap tahun walaupun sudah dijaga oleh manusia, bila tidak ada anjing dobermann tersebut. Kami juga menjadi merasa lebih aman tinggal dan tidur di kebun yang cukup jauh dari rumah tetangga. Q: Siapakah Dokter Hewan yang secara rutin mengawasi kesehatan anjing-anjing dobermann tersebut? A: Drh. Gindo Simanjuntak, PhD. Jl. Lamandau III / 7, Kebayoran Baru, Jak-Sel Tel. (021) 723-7417 HP. (081) 811-6501 Q: Mengapa produk Durian Juntak belum tersedia di supermarket atau toko buah terkenal di Jakarta? A: Pada umumnya supermarket atau toko buah terkenal merasa “di atas angin” dalam menghadapi para pemasoknya. Term and condition yang mereka berlakukan cenderung lebih menguntungkan mereka saja. Misalnya memberlakukan sistem "konsinyasi" atau pembayaran kemudian yang kadang-kadang berlarut-larut. Dengan demikian, pemasok menjadi penyedia modal bagi mereka (yang bermodal lebih kuat). Marjin (selisih harga jual dengan harga beli) yang mereka inginkan juga “keterlaluan,” tidak adil atau tidak fair; misalnya harga jual mereka dua kali lipat harga belinya. Salah seorang pemilik toko buah pernah mengutarakan risiko yang ditanggungnya sebagai justifikasi marjin yang demikian tinggi. Ketika kami tanyakan apakah sudah ada penjaga toko buah dalam gedung disambar petir, pemilik toko buah tersebut hanya dapat tersipu-sipu. Sampai sekarang, kami memang belum pernah menawarkan produk kami kepada supermarket atau toko buah terkenal. Kami ingin mencoba mempopulerkan sendiri dahulu nama kami, dengan menjual langsung kepada end-buyer. Lagi pula, kami menilai bahwa pelayanan yang kami berikan masih lebih baik daripada yang diberikan oleh supermarket dan toko buah (misalnya, kami melayani pembeli durian di Jln. Tebet Timur Dalam no. 119 Jakarta setiap saat, biar tengah malam sekalipun, asal menelpon dahulu). Produksi kebun kami juga masih relatif sedikit, baru mencapai 10 persen dari kapasitas penuhnya. Namun bila kelak ada supermarket atau toko buah yang bersedia bekerja sama dengan dasar saling membutuhkan dan saling menguntungkan, tidak tertutup kemungkinan produk kami akan tersedia di supermarket atau toko buah tertentu. Q: Dari pengalaman beberapa tahun ini, cara apa yang terbaik dan paling efektif dalam penyebaran informasi Durian Juntak? A: Dari mulut-ke-mulut. Mayoritas pelanggan baru kami adalah pembeli yang direkomendasikan oleh orang lain yang sebelumnya sudah pernah membeli durian kami. Dapat kami katakan bahwa 95% dari pembeli-baru yang sudah pernah mencicipi atau membeli durian kami, akan datang kembali pada musim panen berikutnya. Banyak para pelanggan yang meminta agar nama dan nomor telponnya kami catat untuk ditelpon bila durian kami sudah mulai panen. Q: Apa yang membuat customer Durian Juntak loyal? A: Pertama-tama dan yang paling penting, kami jujur dan terus terang kepada customer kami. Kami juga berusaha agar selalu konsisten dan memenuhi apa yang kami janjikan. Keuntungan jangka panjang lebih kami utamakan dibanding keuntungan jangka pendek, karena Durian Juntak kami inginkan akan bertahan sampai tujuh turunan. Kami juga berusaha memberi penjelasan yang memuaskan. Oleh karena produk kami bukan hasil manufacturing yang selalu bisa diuji sebelum dijual, memang tidak mustahil buah yang kami kira baik ternyata kemudian kurang memuaskan. Dalam hal seperti itu kami meminta maaf dan menawarkan pilihan: menggantinya dengan durian baru (bila tersedia) atau mengembalikan uang mereka. Q: Mengapa Durian Juntak baru terdengar sekarang, padahal sudah cukup lama mulai membuka kebun durian? A: Kami memang sudah cukup lama mulai mengebunkan durian Monthong, yakni sejak tahun 1987. Namun banyak sekali kendala yang kami hadapi, sehingga hasilnya sangat jauh dari yang kami harapkan semula. Manajemen kebun kami diserahkan kepada orang lain, yang ternyata kurang mampu untuk mengelolanya dengan baik. Kami sendiri memang meng-underestimate kesulitan mengelola kebun durian, khususnya jenis Monthong. Kami kira mudah, karena melihat durian kampung yang tanpa dirawat secara khusus dapat berbuah dan bertahan selama puluhan tahun. Ternyata penilaian kami itu salah sekali, hama dan penyakit durian rupanya banyak sekali. Banyak pohon durian kami yang mati setiap tahun, terutama oleh Phytophthora palmivora yang bila menyerang pangkal batang dijuluki penyakit kanker batang. Penyakit ini menyerang tanaman dari yang masih bibit hingga yang sudah tua sekalipun. Oleh karena daerah Cariu sebelumnya merupakan areal kebun karet, terdapat pula banyak jamur akar putih atau Rigidoporus lignosus, yang juga mematikan terutama bagi tanaman muda. Pendiri kebun ini sendiri, yakni Ir. Midian Simanjuntak, MBA, belum dapat sepenuhnya memberikan perhatian karena masih bekerja di BRI dan sering berpindah-pindah. Dari 951 pohon yang ditanam pada tahun 1987 hingga tahun 1997 yang masih hidup hanyalah 178 pohon. Hasil panen, yang masih sedikit, juga belum kami pasarkan, tetapi dibagi-bagikan saja kepada para kenalan dan teman. Barulah pada tahun 1999 hasilnya mulai kami jual kepada customer. Dan sejak itu jumlah produksi kami menanjak terus. Sejak pertengahan tahun 2001, setelah tidak aktif lagi bekerja di bank, manajemen kebun dipegang langsung oleh Ir. Midian Simanjuntak, MBA. Kebetulan pada saat itu, orang yang diserahi tanggung jawab menjaga kebun itu juga meminta berhenti. Sejak itulah kami lakukan research and development yang sangat intensif sehingga membawa kami ke level sekarang. Q: Bila memelihara durian Monthong begitu sulit karena rentan terhadap berbagai penyakit sehingga banyak yang mati, mengapa Durian Juntak tidak beralih saja pada durian unggul lokal? A: Kami sendiri memang pernah “tergoda” untuk beralih pada jenis unggul lokal. Suatu saat di bulan Agustus 1997, Midian Simanjuntak bertemu dengan Prof. Ali Wardhana, mantan Menteri Keuangan di awal pemerintahan Presiden Soeharto di club house lapangan golf Matoa. Beliau merupakan salah satu pelopor pekebun durian Bangkok yang sering diberitakan oleh media massa di tahun 70-an. Ketika Midian Simanjuntak menanyakan durian Bangkok tersebut, beliau menjawab: "It has become history. Kapok!. Pada mati semuanya. Saya ganti dengan durian lokal saja.” Ketika percakapan ini disampaikan oleh Midian Simanjuntak kepada orang yang mengurus kebun, responsnya adalah: “Ah, Pak, kalau nanam durian lokal, ya orang kampung juga bisa. Ngapain saya di sini?” Setelah memikirkan lebih mendalam dan saksama, akhirnya kami putuskan untuk tetap bertahan meneruskan memelihara jenis Monthong. Q: Ada yang berpendapat bahwa durian Medan, durian Jepara, atau durian Palembang lebih enak dari durian Monthong, apa benar begitu? A: Soal selera memang sulit diperdebatkan, karena setiap orang memiliki selera tersendiri. Tetapi dalam pendapat seperti itu ada masalah mendasar. Yang mana yang dimaksud dengan durian Medan, Jepara, atau Palembang sebenarnya tidak jelas. Di Sumatera Utara, seperti juga di daerah lain, terdapat banyak sekali ragam durian, mulai dari yang paling enak hingga yang paling hambar (Orang tua kami memiliki 15 pohon durian kampung dengan 15 rasa di Tanah Jawa, 20 km dari Pematang Siantar). Durian yang didatangkan dari Sumatera Utara ke Jakarta akan disebut durian Medan. Mungkin dipilih yang relatif baik, tetapi tetap tidak homogen seperti durian Monthong dari mana pun. Ada yang lebih enak dan ada juga yang kurang enak dibanding durian Monthong. Yang mengatakan bahwa durian Medan lebih enak dari durian Monthong biasanya adalah mereka yang menyukai durian yang mengandung “rasa pahit” (dalam bahasa Batak Tapanuli disebut “paet lada”). Durian Monthong impor, yang bukan matang pohon, pada umumnya memang tidak memiliki rasa seperti itu. Tetapi akan lain rasanya, bila durian Monthong tersebut matang pohon, seperti durian kami, dan ditunggu hingga mulai retak baru dibuka, “rasa pahitnya” akan ada. Q: Bolehkah saya mengunjungi kebun Durian Juntak sekedar melancong, berdiskusi, melihat kebun durian, bertemu-muka, atau bermain-main? A: Untuk sementara ini, kami masih sangat selektif terhadap orang yang ingin mengunjungi kebun kami. Kebun kami belum siap menjadi tujuan agrowisata. Pertama, kami masih sangat sibuk melakukan berbagai percobaan dalam rangka research and development, sehingga sangat terbatas waktu luang kami untuk menerima pengunjung. Kedua, banyak tanaman kami yang masih berusia muda, sehingga masih sangat rentan terhadap serangan penyakit. Kedatangan pengunjung tidak jarang membawa bibit penyakit, misalnya menempel pada ban kendaraannya. Ketiga, fasilitas untuk menerima pengunjung belum tersedia. Jalan masuk ke kebun kami dari jalan desa, sekitar 250 meter, masih berupa tanah yang hanya dapat dilalui oleh kendaraan 4-wheel di musim hujan. Keempat, masih banyak ular tanah yang amat beracun, sehingga kami khawatir terhadap keselamatan para pengunjung, terutama anak-anak. Apabila berbagai kendala tersebut sudah tidak ada lagi, barulah kami bersedia menerima kunjungan publik. Hal ini sudah merupakan bagian dari rencana jangka menengah dan panjang kami. Namun bila Anda sungguh-sungguh berniat keras mengunjungi kebun kami, harap menghubungi kami terlebih dahulu. Q: Apa saja persyaratan yang perlu dipenuhi agar diperbolehkan mengunjungi A: Pada dasarnya tidak ada persyaratan tertentu bagi orang yang ingin mengunjungi kebun kami. Namun mereka yang berniat harus terlebih dahulu mendapat izin dari kami (dalam hal ini Ir. Midian Simanjuntak, MBA). Yang perlu kami jelaskan adalah bahwa fasilitas bagi pengunjung di kebun kami sangat kurang. Maklum kami masih memfokuskan perhatian pada perawatan tanaman, yang sebagian besar masih kecil-kecil dan muda. Pengunjung yang berupa rombongan kami harapkan membawa “bekal” sendiri berupa makanan atau minuman. Kami belum dapat memberikan pelayanan makan atau minum karena semua personil yang ada ditugaskan untuk merawat kebun dan mengurus anjing penjaga. Kami mengharapkan agar kunjungan seseorang ke kebun kami akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Misalnya kunjungan wartawan atau reporter akan kami sambut dengan senang hati. Kami juga akan menyambut gembira kedatangan investor yang berminat mengadakan kerja-sama, pedagang atau orang yang ingin menyaksikan sendiri kebenaran berbagai informasi yang disajikan dalam web-site ini. Q: Apa rencana jangka panjang Durian Juntak terhadap kebun durian di Cariu? A: Kebun di Cariu direncanakan akan dibuka untuk kunjungan publik atau menjadi objek agrowisata. Pada saat itu kami harapkan semua tanaman durian kami sudah dewasa. Untuk itu secara bertahap akan kami persiapkan jalan masuk yang lebih baik dan berbagai fasilitas yang diperlukan. Oleh karena daerah Jonggol dan Cariu diharapkan akan menjadi alternatif bagi Puncak yang sudah terlalu padat, ada kemungkinan kebun itu akan dilengkapi dengan fasilitas penginapan, dan kolam renang. Di samping persiapan yang berupa fisik, tentunya diperlukan juga persiapan bagi tenaga penerima tamu agar semakin meningkat, maka kami akan mulai ekspansi ke produk turunan, seperti dodol, kue, permen, atau es-krim. Dengan demikian pelanggan Durian Juntak dapat menikmati produk kami sepanjang tahun. Q: Bolehkah saya sebagai pedagang-buah menjadi distributor Durian Juntak di kota saya? A: Setiap permintaan seperti itu akan kami tanggapi dengan sangat serius. Namun perlu kami tegaskan, bahwa kami tidak bersedia bekerja-sama dengan pedagang yang tamak atau greedy. Bila Anda mengharapkan marjin yang sangat tinggi, seperti kebanyakan pedagang hasil pertanian, sebaiknya urungkan saja niat Anda menjadi distributor Durian Juntak. Anda tidak akan mengalami kerugian berbisnis dengan kami, tetapi janganlah langsung mengharapkan keuntungan besar dalam jangka pendek. Yang kami harapkan adalah distributor yang berorientasi jangka panjang, karena bisnis durian kami ini juga dimaksudkan untuk bertahan dalam waktu yang sangat panjang. Mengingat produk kami adalah durian jatuhan, maka lama perjalanan dari kebun kami ke tempat Anda merupakan salah satu faktor penentu. Kami menuntut komitmen Anda dalam memuaskan kebutuhan para pencinta durian bermutu tinggi. Banyak pengusaha Indonesia yang bangkrut karena ketamakan pemiliknya: setelah produknya cukup laku timbul keinginan memperoleh untung yang lebih besar dengan menurunkan mutu produknya. Ambil sebagai contoh lembaran tripleks; dikatakan ketebalannya 4 mm tetapi kalau diukur hanya 3 mm. Hanya di negeri kita ini barangkali ada istilah “banci,” karena ukurannya tidak standar dan tidak sama dengan yang disebutkan. Bagi kami juga tidak masuk akal untuk apa kaleng cat yang satu liter hanya berisi 700 ml. Ketika pengusaha lain muncul dengan mutu yang standar dan lebih terjamin, barulah pengusaha tersebut sadar, tetapi sudah terlambat karena namanya sudah terlanjur rusak. Q: Apakah boleh membeli durian di kebun? A: Bila Anda sudah “terlanjur” datang ke kebun, dengan terpaksa akan kami layani. Kami sebenarnya belum ingin-dan-siap untuk dikunjungi karena masih sangat sibuk melakukan percobaan, mendidik para pekerja, dan belum memiliki tenaga yang dapat melayani tamu. Sistem kontrol dalam penjualan durian di kebun juga belum kami siapkan, sehingga hanya Midian Simanjuntak yang berwenang menjual durian di kebun. Apabila Midian Simanjuntak sedang tidak berada di kebun, mohon maaf, keinginan Anda untuk membeli durian tidak akan terkabul. Anda kemungkinan besar akan merasa heran dan menggerutu bila harga durian di kebun kami tetapkan lebih tinggi daripada harga di Tebet. Kebijakan seperti itu kami berlakukan agar Anda “kapok” membeli durian di kebun kami, dan terdorong membelinya ke Tebet. Q: Berapa hasil penjualan Durian Juntak dalam beberapa tahun terakhir ini? A: Khusus penjualan durian adalah sebagai berikut: 1999 -- Rp 20 Juta 2000 -- Rp 65 Juta 2001 -- Rp 151 Juta 2002 -- Rp 182 Juta 2003 -- Rp 226 Juta 2004 -- Rp 10+ Juta (gagal panen) Kegagalan panen tahun 2004 disebabkan cuaca yang menyimpang dari normal pada tahun 2003. Pada tahun 2003, panen berakhir pada bulan April. Pada bulan May sudah mulai terjadi musim kemarau, sehingga tidak ada kesempatan pohon durian kami untuk recovery. Biasanya bulan May hingga July masih cukup curah hujan untuk menyegarkan kembali pohon-pohon yang tenaganya terkuras karena berbuah (seperti orang atau hewan yang baru melahirkan). Pada waktu itu kami masih sedang memperluas jaringan pengairan dan tidak menduga kemarau akan begitu dini datangnya. Bulan Agustus pohon durian mulai mengeluarkan kembang dan bulan September mulai musim hujan. Hujan mendorong tumbuhnya tunas baru dan daun muda yang mengalahkan buah-buah yang baru terbentuk “menyedot’ nutrisi. Akibatnya, hampir semua buah yang sudah jadi, termasuk yang sudah lebih besar dari bola tennis rontok. Inilah salah satu contoh mengapa agribisnis itu dinilai berisiko tinggi. Tetapi ada kaidah investasi yang berbunyi “higher risk, higher return.” Q: Bahan-bahan apa saja yang terkandung dalam daging buah durian? A: Berikut ini adalah kandungan nutrisi 100 gram daging buah durian yang kami kutip dari buku publikasi durian. Dalam publikasi itu diberikan berbagai angka yang berasal dari berbagai laporan para peneliti. Kami menyajikan angka terendah dan tertinggi. Perbedaan jenis durian, cara analisis, dan asal durian kelihatannya sangat mempengaruhi komponen isi daging buah durian.
Q: Apakah benar memakan durian berbahaya bagi penderita penyakit darah tinggi dan penyakit jantung? A: Kami juga sering mendengar pernyataan seperti itu. Tetapi hingga sekarang kami belum menemukan publikasi ilmiah yang menyatakan unsur apa dalam daging buah durian yang dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung. Kami akan merasa gembira bila ada ahli yang dapat menjelaskan dan menunjuk bahan kimia apa dalam tabel di atas yang berbahaya bagi penderita penyakit darah tinggi dan kelainan jantung. Togar Napitupulu (teman sekelas dari Midian Simanjuntak di SMA-IB Pematang Siantar tahun 1959-1962) punya pengalaman tersendiri tentang masalah ini. Pada tahun 2000 dia menjalani operasi by-pass jantung. Dokter menasehatinya agar tidak memakan durian. Selama 3 tahun dia “puasa” dari buah yang paling disukainya itu, sampai dia bertemu dengan seorang ahli gizi. Ahli gizi itu mentertawai dia dan dokter yang melarangnya memakan durian. Dia disuruh memeriksakan darah sebelum dan sesudah makan durian. Ternyata memang tidak ada perubahan nyata yang dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung. Sejak itu Togar Napitupulu kembali menikmati kelezatan durian. Sang ahli gizi mengatakan bahwa orang yang sedang makan durian sulit berhenti selama masih ada. Padahal memakan apapun kalau terlalu banyak dapat menyebabkan stroke, dan serangan jantung bagi mereka yang sudah tergolong penderita-berat. Q: Bahan-bahan apa saja yang terkandung dalam biji durian? A: Berikut ini adalah kandungan nutrisi 100 gram biji durian yang kami kutip dari buku publikasi durian:
|