|
|
|
| A: Kami menawarkan durian yang kami jamin akan memuaskan pembeli. Durian yang kami tawarkan merupakan durian bermutu tertinggi yang mungkin dihasilkan, antara lain melalui pemilihan klon terbaik Monthong, perawatan dan pemeliharaan yang baik, durian yang bebas bahan kimia berbahaya, dan panen matang pohon. Apabila ada yang merasa kurang puas, maka kami bersedia untuk mengembalikan uang customer. Para maniak durian tidak perlu lagi 'berburu' hingga ke desa-desa untuk mendapatkan durian yang dapat memuaskan selera mereka. Q: Apa benar mutu durian Durian Juntak lebih tinggi dari Monthong Impor? A: Ya. Penyebab utama durian kami bermutu lebih baik dibanding durian impor, karena semua durian kami adalah durian matang pohon atau lebih umum dijuluki “jatuhan.” Proses kimiawi maupun proses biologis pada buah durian kami mencapai tingkat maksimum, sehingga mutunya juga menjadi sempurna. Sedang durian impor, terutama dari Thailand, semuanya adalah buah petikan yang proses pematangannya belum selesai. Lamanya perjalanan sejak dari kebun di Thailand hingga mencapai supermarket atau toko buah di Indonesia, misalnya Jakarta, menjadi penyebab utama. Bila menggunakan angkutan laut, paling cepat 2 minggu. Hanya durian petikan yang bisa bertahan selama itu. Bila durian tersebut adalah durian jatuhan, maka dalam perjalanan selama 2 minggu pastilah sudah akan retak dan busuk. Q: Apa benar durian Monthong produksi Durian Juntak sungguh jatuhan? A: Kami dapat memahami apabila masih ada yang meragukan produk kami sungguh durian jatuhan, sehingga ingin melihat sendiri kebenarannya dengan mendatangi kebun kami. Memang sudah sejak lama sulit untuk menemukan durian jatuhan, terutama di kota besar seperti Jakarta. Bahkan tidak jarang konsumen merasa tertipu karena durian peraman dikleim sebagai durian jatuhan. Durian kami secara harfiah memang tidak tepat disebut “jatuhan” karena tidak dibiarkan jatuh sendiri dari pohonnya. Kami menggunakan istilah tersebut karena sudah populer dan lebih singkat sebagai padanan dari "matang pohon". Sekitar sebulan sebelum ada yang jatuh, para pekerja kami mulai melakukan pengikatan buah. Dengan demikian, ketika buah durian sudah matang dan copot dari tangkainya, tidak akan jatuh ke tanah. Selama musim panen, dua atau tiga kali dalam sehari pekerja kami memeriksa setiap pohon untuk melihat apakah sudah ada yang copot dari tangkainya dan menggantung pada tali pengikatnya. Buah durian tersebut diturunkan dan dikumpulkan. Q: Apa tidak lebih sulit membuat durian jatuhan? A: Bagi kami membuat durian matang pohon atau jatuhan justru lebih mudah, lebih praktis dan lebih menguntungkan dibanding membuat durian petikan atau peraman. Membuat durian petikan justru mengandung paling tidak dua risiko. Risiko pertama ialah cabang patah atau sempal karena diinjak ketika pekerja berusaha mendekati buah agar dapat mengetuk dan mendengarkan bunyinya. Banyak buah durian yang jauh dari batang utamanya. Patahnya cabang sangat merugikan; buah muda pada cabang tersebut ikut jatuh, dan cabang yang berkurang menyebabkan produktivitas pohon tersebut menurun di kemudian hari . Risiko kedua, ialah terpetiknya buah yang terlalu muda sehingga tidak akan mau matang, berarti tidak dapat dijual. Ada hasil penelitian di Institut Pertanian Bogor yang menyatakan, bahwa durian yang dipetik seminggu sebelum jatuh akan memiliki kualitas sama dengan jatuhan. Masalahnya, sampai sekarang belum ada cara, alat atau metode terpercaya untuk mengetahui berapa hari lagi suatu buah akan jatuh. Bila hanya mengandalkan metode mengetuk dan mendengarkan bunyinya, akan sering terjadi terpetiknya buah yang masih muda, karena perbedaan umur buah dalam satu pohon bisa sampai dua bulan. Kedua risiko itu teratasi dengan membuat buah durian matang pohon atau jatuhan. Dengan diberi contoh sekali saja, seorang pekerja dengan mudah akan memahami cara mengikat buah, termasuk yang agak jauh dari batang utamanya. Ujung talinya dibuat seperti jerat, dengan menggunakan galah kecil dilingkarkan pada buah, ditarik dan dikencangkan, dililitkan ke dahan di atasnya, lalu ujungnya diikatkan ke dahan yang terjangkau dari batang utama. Dengan demikian, terhindar dari risiko pertama, yakni patahnya cabang karena diinjak oleh pekerja. Risiko kedua, berupa terpetiknya buah muda, juga dengan sendirinya teratasi, karena semua buah sudah pasti matang sempurna. Para pekerja yang berkeliling, tanpa perlu memanjat pun, dapat melihat buah yang sudah menggantung pada talinya, dan menurunkannya dengan tali, bila ada. Cara ini juga mencegah kerugian lainnya, yakni terbenturnya buah ke cabang atau ke tanah sehingga kulitnya rusak, memar atau bonyok, tangkainya rusak, kotor, merontokkan buah yang berada di bawahnya atau hilang karena terguling ke tempat lain. Q: Bagaimana perbandingan harga durian Durian Juntak versus durian impor? A: Harga durian kami kadang-kadang lebih murah, tetapi tidak jarang juga lebih mahal. Setiap hari kami selalu memonitor harga durian monthong di toko buah dan supermarket, tetapi kami memang tidak dapat dan tidak “reasonable” mengikuti pergerakan harga yang mereka terapkan, yang setiap hari bisa berubah. Soalnya, harga durian monthong impor mengalami fluktuasi, tergantung banyaknya durian masuk, dan kualitasnya. Pada saat buahnya baru datang dan segar, mereka mematok harga tinggi. Pada saat itu kemungkinan besar harga durian kami lebih rendah. Setelah dua atau tiga hari, bila belum habis, harganya mereka turunkan. Dua atau tiga hari kemudian mereka turunkan lagi. Ini sangat wajar, karena kualitas durian yang belum laku (karena belum matang) tentunya setiap hari akan menurun. Semakin lambat sebuah durian petikan matang berarti semakin muda usia buah tersebut ketika dipetik dan semakin kurang enak rasanya. Setelah harganya mereka turunkan beberapa kali, maka harganya sudah di bawah harga durian kami. Pada saat seperti itu tidak jarang kami menerima telpon dari calon pembeli yang merasa heran, kok durian kami lebih mahal dari harga yang ditawarkan oleh toko buah atau supermarket. Padahal mutu durian mereka itu mungkin sudah tidak layak lagi dikonsumsi, lalu “diobral” daripada dibuang ke tong sampah. Bagi kami tidak berlaku hal seperti itu sehingga tidak masuk akal melakukan penurunan harga, karena mutu durian kami tidak menurun dengan berjalannya waktu. Durian yang kami jual adalah durian segar matang pohon yang setiap hari diturunkan dari pohonnya. Q: Berapa harga-jual buah durian Durian Juntak? A: Kami senantiasa memonitor (melalui telpon) harga durian impor yang ditawarkan oleh supermarket dan toko buah. Hasil monitoring itu kami gunakan untuk menentukan harga jual kami. Namun harga durian kami tidaklah turun naik seperti yang mereka lakukan, karena tidak ada alasan yang rasional untuk itu. Berbeda dengan mutu durian yang mereka jual, mutu produk kami stabil, karena semuanya adalah durian matang pohon atau jatuhan. Dalam tiga tahun terakhir harga durian utuh berkisar di antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Sedang harga isinya saja, seperti umumnya dilakukan oleh supermarket dan toko buah adalah 3 kali lipat harga buah utuh. Dari hasil penelitian kami, rasio isi durian dengan durian utuh berkisar antara 30 hingga 35 persen. Q: Dibanding harga durian lokal, apakah harga Durian Juntak tidak terlalu mahal? A: Memang demikian umumnya persepsi orang. Katakanlah ketika harga durian kami Rp 25.000/kg, durian yang berbobot 4 kg akan berharga Rp 100.000. Akan segera terdengar mahal, bukan? Tetapi cobalah belanjakan Rp 100.000 di penjual durian di tepi jalan, mungkin akan diperoleh 3 atau 4 buah durian lokal atau durian kampung, yang rasanya berbeda-beda karena berasal dari pohon yang berbeda-beda juga. Kemudian keluarkan dan pisahkan daging buah kedua jenis durian itu. Kemungkinan besar bobot daging buah durian kami akan lebih berat. Sehingga bila dilihat dari segi rasio harga dan berat daging buah yang dapat dimakan, rasio durian Monthong kami akan lebih kecil. Artinya, harga durian kami, misalnya per 100 gram daging buah yang bisa dimakan, lebih murah. Sebabnya tidak lain karena durian monthong berdaging buah amat tebal dan berbiji kempis. Memakan durian Monthong akan lebih praktis dan lebih higienis dengan menggunakan sendok. Sedang durian lokal atau kampung kebanyakan berbiji besar dan berdaging buah tipis, sehingga janggal kalau dimakan pakai sendok. Ketika hal ini kami utarakan kepada konsumen, seringkali mereka "kaget". Mereka mengaku tidak berpikir sejauh itu, sehingga kurang menyadari bahwa yang ingin dibeli adalah daging buah duriannya, yang dapat dimakan dan ditelan. Ini baru dari segi harga. Kelebihan durian kami lainnya ialah dijamin matang pohon, memiliki rasa yang relatif homogen dan bila kurang memuaskan dapat ditukar durian atau uang dikembalikan. Pembeli tidak perlu menjadi seorang ahli dalam memilih durian yang baik karena rasa durian kami standar dan seragam sehingga pembeli tidak akan pernah merasa tertipu. Q: Mengapa durian lokal juga sudah jarang yang jatuhan? A: Ada dua penyebab utama mengapa durian lokal yang dijual di kota besar, seperti Jakarta, sangat jarang yang merupakan durian jatuhan. Pertama, durian lokal yang dijual di Jakarta belakangan ini berasal dari daerah. Bahkan durian dari Sumatera Utara, yang dijuluki Durian Medan, juga sampai ke Jakarta. Pada umumnya durian lokal sangat mudah retak. Dalam satu dua hari setelah jatuh sudah akan retak. Berbeda dengan durian Monthong, setelah jatuh dapat bertahan tiga sampai lima hari. Oleh karena durian lokal tersebut berasal dari daerah, maka sangat tinggi risikonya bagi pedagang untuk membawa durian yang matang pohon. Yang kedua, ialah sistem penjualan durian kepada para tengkulak yang biasa dilakukan oleh para petani. Para petani kita pada umumnya hanya memiliki dua hingga lima pohon durian. Ketika buahnya sudah menjelang matang, biasanya dijual kepada pedagang secara borongan atau tebasan. Sejak terjadi transaksi, keamanan buah menjadi tanggung jawab pedagang. Pedagang menggaji orang untuk menjaganya, siang dan malam. Bila yang dijaga hanyalah lima pohon misalnya, maka biaya penjagaan itu menjadi relatif sangat mahal. Itulah sebabnya, begitu ada beberapa buah yang jatuh karena sudah matang, segera mulai dilakukan pemetikan. Sedang bagi kami, biaya penjagaan relatif murah, karena seorang pekerja dengan ditemani anjing dobermann dapat menjaga beberapa ratus pohon. Q: Apakah durian Monthong dapat langsung dimakan ketika baru jatuh dari pohon-nya? A: Tidak. Pada umumnya, ketika baru jatuh dari pohonnya jarang yang sudah harum sebagai pertanda sudah matang. Dibutuhkan 2-4 hari baru benar-benar matang, tergantung pada besar buahnya: Semakin besar ukurannya akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kematangan sempurna. Bila menginginkan rasanya benar-benar legit (ada rasa “pahitnya”), maka sebaiknya dimakan ketika sudah mulai retak sedikit di bagian “ekornya”. Tetapi ada juga orang yang lebih menyukai durian yang agak “mengkal” dan masih agak keras, terutama orang- orang Thailand. Q: Apakah durian produk Durian Juntak bebas bahan kimia berbahaya? A: Ya. Kami sangat memperhatikan keselamatan dan kesehatan konsumen kami. Buah durian kami dijamin tidak mengandung pestisida (fungisida dan insektisida) atau bahan-bahan kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Kalaupun kami menggunakan insektisida repellent untuk mengusir (bukan membunuh) hama pembusuk, kami gunakan bahan-bahan dari tumbuhan (insektisida nabati) yang ramah lingkungan dan cepat hilang. Untuk buah yang panen sekitar bulan Agustus- Oktober, yang berasal dari kembang bulan April-Mei, sama sekali tidak disemprot dengan insektisida karena serangan hama pembusuk dalam musim itu memang tidak ada. Insektisida nabati untuk mengusir hama hanyalah digunakan pada buah yang panen bulan Januari-Maret, yang berasal dari kembang bulan September- Oktober, yakni ketika buah masih kecil hingga sebesar bola tennis. Pada saat seperti itulah hama sejenis kupu-kupu (seperti Conogethes punctiferalis dan Mudaria luteileprosa) meletakkan telurnya pada buah, yang kemudian berubah menjadi ulat (larva) dan menerobos ke dalam buah. Paling lambat dua bulan sebelum buah durian jatuh, kami telah menghentikan penggunaan insektisida tersebut, sehingga dijamin tidak akan ada lagi residunya pada buah. Q: Siapa target-market Durian Juntak? A: Target market kami ialah para penggemar dan pencinta buah durian kelas berat. Mereka sangat mementingkan dan mengutamakan kualitas dibanding harga. Oleh karenanya kami berusaha sekuat mungkin menjaga mutu durian yang kami jual agar selalu prima. Namun, bagi penjualan durian secara utuh, pengecekan mutu tidaklah mudah; walaupun sudah harum dan bunyinya sudah “ngebass” ketika diketuk, masih mungkin terjadi belum semuanya matang. Untuk mencegah kekecewaan customer, kami berikan garansi. Apabila ada pelanggan yang merasa durian kami kurang memuaskan, kami bersedia menggantinya atau mengembalikan uangnya (tentunya durian yang dibeli harus dikembalikan juga kepada kami). Menjaga mutu durian isi jauh lebih mudah, karena dengan melihat penampilannya saja kami sudah tahu apakah daging buah durian itu baik dan enak. Q: Apakah Durian Juntak sudah memiliki outlet? A: Kami baru memiliki tiga outlet: 2 di Jakarta dan 1 di Bandung. Untuk sementara ini, kami baru sanggup melayani Jabotabek dan Bandung saja, karena produksi kami masih relatif sedikit. Bila nanti produksi kami sudah semakin meningkat, baru kami pertimbangkan untuk menambah outlet di luar Jakarta dan Bandung. Durian Juntak (Cafe Durian ~ makan di tempat) Jl Tebet Timur Dalam Raya 119 Tebet, Jak-Sel 12820 Phone: (021) 8312-416 Fax: (021) 8370-0042 SMS: (0813) 1551-9035 PETA -- Lokasi Durian Juntak (.JPG 197 KB) PETA -- Lokasi Durian Juntak (.PDF 266 KB) DKI, Jakarta (Dealer/Pengecer): Restoran Red Corner Jl. Setiabudi Barat No. 1A Phone: (021) 7070-9345 PETA -- Lokasi Red Corner (.JPG 96 KB) PETA -- Lokasi Red Corner (.PDF 138 KB) Bandung, Jawa-Barat (Dealer/Pengecer): Toko Buah QUEEN, Jl. Karapitan 29A Bandung, Jawa Barat Phone: (022) 730-1941 731-7209 Q: Apakah mudah untuk mencapai outlet Durian Juntak? A: Sangat mudah. Outlet pertama (headquarter) mudah dicapai dari segala penjuru Jakarta, karena dekat dengan jalan toll Cawang-Semanggi. Dari Pancoran menuju Cawang, setelah melewati RS Tebet, ada simpang ke kiri masuk ke Jl. Tebet Timur Raya. Setelah 250 m ada pertigaan ke kanan masuk ke Jl. Tebet Timur Dalam Raya menuju Pasar PSPT. Sekitar 500 m dari pertigaan itu, di sebelah kanan, dua rumah setelah Toko Roti “Larisia”, di sebelah kanan Cyber City dan di sebelah kiri travel agent Masindo, akan Anda temukan outlet pertama kami. Outlet kedua, di Jalan Setiabudi Barat No. 1A, juga mudah ditemukan. Dari Jalan Sudirman, masuk ke Jl. Setiabudi Raya (di sebelah kanan Chase Plaza), 100 m setelah belokan ke kiri, di sebelah kanan akan mudah ditemukan Restoran Red Corner. Sedang yang di Bandung, kiranya tidak perlu diterangkan lagi, karena Toko Buah Queen di Jl. Karapitan no. 29A sudah amat terkenal dan dekat ke alun-alun Bandung. Q: Apakah pembelian di satu outlet dapat dikleim di outlet yang lain? A: Untuk outlet Jakarta, Ya. Sedang pembelian di Bandung tidak dapat dikleim di Jakarta atau sebaliknya. Perlu kiranya kami jelaskan bahwa kleim hanya akan dilayani bila durian yang dibeli disertai label asli (tanpa perubahan pada label maupun benang pengikatnya) diserahkan secara utuh kepada outlet kami. Dengan demikian dapat diketahui dengan pasti berapa penggantian yang harus kami berikan. Q: Apakah dilayani orang yang ingin makan durian di outlet Durian Juntak? A: Ya. Kami menyediakan fasilitas makan durian di Jl. Tebet Timur Dalam no. 119. Waktu buka adalah dari pukul 11 pagi hingga pukul 10 malam. Restoran “Red Corner” yang di Jl. Setiabudi Barat no. 1A, juga melayani konsumen yang ingin memakan durian di tempat itu. Sedang toko buah “Queen” di Bandung hanya mengutamakan penjualan durian utuh atau durian isi saja. Namun demikian, apabila customer ingin memakan satu atau dua buah di tempat itu, sambil berdiri, pemilik toko tersebut tidaklah keberatan. Q: Mengapa produk Durian Juntak belum tersedia di supermarket atau toko buah? A: Pada umumnya supermarket atau toko buah terkenal merasa “di atas angin” dalam menghadapi para pemasoknya. Term and condition yang mereka berlakukan cenderung lebih menguntungkan mereka saja. Misalnya memberlakukan sistem "konsinyasi" atau pembayaran kemudian yang kadang-kadang berlarut-larut. Dengan demikian, pemasok menjadi penyedia modal bagi mereka (yang bermodal lebih kuat). Marjin (selisih harga jual dengan harga beli) yang mereka inginkan juga “keterlaluan,” tidak-adil atau tidak-fair; misalnya harga jual mereka dua kali lipat harga belinya. Salah seorang pemilik toko buah pernah mengutarakan risiko yang ditanggungnya sebagai justifikasi marjin yang demikian tinggi. Daripada berpanjang- panjang menerangkan apa arti risiko, seperti financial risk, langsung saja kami tanyakan apakah sudah ada penjaga toko buah dalam gedung disambar petir. Pemilik toko buah tersebut hanya dapat tersipu-sipu. Sampai sekarang, kami memang belum pernah menawarkan produk kami kepada supermarket atau toko buah terkenal. Kami ingin mencoba mempopulerkan sendiri dahulu nama kami, dengan menjual langsung kepada end-user. Lagi pula, kami menilai bahwa pelayanan yang kami berikan masih lebih baik daripada yang diberikan oleh supermarket dan toko buah (misalnya, kami melayani pembeli durian di Jl. Tebet Timur Dalam no. 119 Jakarta setiap saat, biar tengah malam sekalipun, asal menelpon dahulu). Produksi kebun kami juga masih relatif sedikit, baru mencapai 10 persen dari kapasitas penuhnya. Namun bila kelak ada supermarket atau toko buah yang bersedia bekerja sama dengan dasar saling membutuhkan dan saling menguntungkan, tidak tertutup kemungkinan produk kami akan tersedia di supermarket atau toko buah tertentu. Q: Cara apa yang terbaik dan paling efektif bagi penyebaran informasi Durian Juntak? A: Dari pengalaman beberapa tahun ini, penyebaran informasi dari mulut-ke-mulut merupakan yang terbaik dan paling efektif. Cukup banyak customer baru kami yang tertarik karena saran orang lain yang sudah pernah membeli durian kami. Dapat kami katakan bahwa 95% dari pembeli baru yang sudah pernah mencicipi atau membeli durian kami, akan datang kembali pada musim panen berikutnya. Banyak para pelanggan yang meminta agar nama dan nomor telponnya kami catat untuk ditelpon bila durian kami sudah mulai panen. Q: Apa yang membuat customer Durian Juntak loyal? A: Pertama-tama dan yang paling penting, kami jujur dan terus terang kepada customer kami. Kami juga berusaha agar selalu konsisten dan memenuhi apa yang kami janjikan. Keuntungan jangka panjang lebih kami utamakan dibanding keuntungan jangka pendek, karena Durian Juntak kami inginkan akan eksis dan bertahan sampai lama. Kami juga berusaha memberi penjelasan yang masuk akal. Produk kami bukan hasil manufacturing yang selalu dapat diuji sebelum dijual, sehingga tidak mustahil ada perbedaan di antara satu buah dengan buah lainnya. Juga berbeda dengan hasil masakan, seperti kue, bila takaran bahan-bahannya konsisten maka hasilnya juga akan konsisten. Sedang produk kami adalah hasil proses biologis yang sangat kompleks. Oleh karena itu bisa saja buah yang kami nilai baik ternyata kemudian setelah dibuka kurang memuaskan konsumen. Dalam hal seperti itu kami meminta maaf dan menawarkan pilihan: Menggantinya dengan durian baru (bila tersedia) atau mengembalikan uang mereka. Ada kalanya, terutama pada masa-masa banyak buah yang tidak mau matang sempurna, misalnya di awal musim panen, kami menyarankan kepada konsumen agar durian yang mereka beli dibuka saja, dan isinya dipindahkan ke kotak stryrofoam. Mana yang lebih murah, harga durian utuh atau harga durian isi, itu yang dibayar oleh konsumen. Kami tawarkan demikian dengan tujuan demi kepuasan konsumen. Juga untuk menghindari adanya kleim yang sebenarnya tidak diinginkan oleh konsumen karena situasi traffic Jakarta yang hampir selalu macet. Bisa saja ada sebagian yang kurang matang, tetapi bagian yang matang dimakan juga, karena sudah ngiler. Sungguh repot apabila kejadian seperti itu dikleim. Secara umum, kami hanya memberikan penggantian apabila durian yang dibeli dikembalikan seutuhnya. Namun, bila isi yang tidak matang dibawa (disertai kulit dan labelnya), akan kami ganti dengan isi durian atau uang dengan nilai yang sama. Q: Apa benar durian lokal atau kampung lebih enak dari durian Monthong? A: Memang sering orang mengatakan kepada kami bahwa durian Medan, Jepara, Parung, Rancamaya, atau durian Palembang lebih enak dari durian Monthong. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pernyataan seperti itu. Pertama, selera memang sulit diperdebatkan, karena setiap orang memiliki selera tersendiri. Ada yang menyukai daging durian mengkal (seperti orang Thailand) dan ada yang menyukai daging yang empuk. Ada yang menyukai manis saja, tetapi ada pula yang menyukai rasa "pahit." Kedua, yang berpendapat seperti itu biasanya membandingkan durian lokal dengan Monthong impor, yang merupakan durian petikan. Lebih parah lagi bila durian impor pembanding dibeli pada saat diobral karena mutunya sudah sangat jelek dan sepantasnya dibuang ke tong sampah. Ketiga, sebenarnya tidak jelas yang mana yang dimaksud dengan durian dengan nama daerah, seperti durian Medan, Jepara, Parung, Rancamaya, atau Palembang. Di Sumatera Utara, seperti juga di daerah lain, terdapat banyak sekali ragam durian, mulai dari yang paling enak hingga yang paling hambar (Orang tua kami di Tanah Jawa, 20 km dari Pematang Siantar memiliki 15 pohon durian kampung/lokal yang saling berbeda dalam hal tampilan, bentuk dan rasa). Durian yang didatangkan dari Sumatera Utara ke Jakarta akan disebut durian Medan. Mungkin dipilih yang relatif baik, tetapi tetap tidak homogen seperti durian Monthong dari mana pun. Ada yang lebih enak dan ada juga yang kurang enak dibanding durian Monthong. Biasanya, yang mengatakan bahwa durian Medan lebih enak dari durian Monthong ialah mereka yang suka pada durian yang memiliki “rasa pahit” (dalam bahasa Batak Tapanuli disebut “paet lada”). Rasa durian Monthong impor, yang petikan atau bukan matang pohon, pada umumnya memang tidak memiliki rasa seperti itu. Kami yakin orang tersebut akan berpendapat lain bila yang dibandingkan adalah durian Monthong matang pohon, dan dibuka bila mulai merekah, rasa pahitnya pasti ada. Justru di situ letak kelebihan durian kami dibanding durian Monthong impor. Q: Bolehkah saya sebagai pedagang-buah menjadi distributor Durian Juntak? A: Setiap permintaan seperti itu akan kami tanggapi dengan sangat serius. Namun perlu kami tegaskan, bahwa kami tidak bersedia bekerja-sama dengan pedagang yang tamak atau greedy. Bila Anda mengharapkan marjin yang sangat tinggi, seperti kebanyakan pedagang hasil pertanian, sebaiknya urungkan saja niat Anda menjadi distributor Durian Juntak. Anda tidak akan mengalami kerugian berbisnis dengan kami, tetapi janganlah langsung mengharapkan keuntungan besar dalam jangka pendek. Yang kami harapkan adalah distributor yang berorientasi jangka panjang, karena bisnis durian kami ini juga dimaksudkan untuk bertahan dalam waktu yang sangat panjang. Mengingat produk kami adalah durian jatuhan, maka lama perjalanan dari kebun kami ke tempat Anda merupakan salah satu faktor penentu. Kami menuntut komitmen Anda dalam memuaskan kebutuhan para pencinta durian bermutu tinggi. Banyak pengusaha Indonesia yang bangkrut karena ketamakan pemiliknya: setelah produknya cukup laku timbul keinginan memperoleh untung yang lebih besar dengan menurunkan mutu produknya. Ambil sebagai contoh lembaran tripleks; dikatakan ketebalannya 4 mm tetapi kalau diukur hanya 3 mm. Hanya di negeri kita ini barangkali ada istilah “banci,” karena ukurannya tidak standar dan tidak sama dengan yang disebutkan. Bagi kami juga tidak masuk akal untuk apa kaleng cat yang satu liter hanya berisi 700 ml. Ketika pengusaha lain muncul dengan mutu yang standar dan lebih terjamin, barulah pengusaha tersebut sadar, tetapi sudah terlambat karena namanya sudah terlanjur rusak. Praktek-praktek seperti inilah yang menimbulkan citra bahwa barang impor selalu lebih baik dari produksi lokal. Ada juga yang memberi alasan bahwa biaya produksi meningkat, sedang harga jual sulit dinaikkan. Dalam situasi seperti itu, kami akan memilih menaikkan harga daripada menurunkan kualitas apabila innovasi dan upaya efisiensi kami tidak berhasil menurunkan biaya produksi. Memang sungguh aneh tapi nyata, produk luar negeri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan mutu, sementara produk lokal kita lebih sering mengalami hal sebaliknya. Q: Apakah boleh membeli durian di lokasi-kebun Cariu? A: Bila Anda sudah “terlanjur” datang ke kebun, dengan terpaksa akan kami layani. Kami sebenarnya belum ingin dan siap untuk dikunjungi karena masih sangat sibuk melakukan percobaan, mendidik para pekerja, dan belum memiliki tenaga yang dapat melayani tamu. Sistem kontrol dalam penjualan durian di kebun juga belum kami siapkan, sehingga hanya Midian Simanjuntak yang berwenang menjual durian di kebun. Apabila Midian Simanjuntak sedang tidak berada di kebun, mohon maaf, keinginan Anda untuk membeli durian tidak akan terkabul. Anda kemungkinan besar akan merasa heran dan menggerutu bila harga durian di kebun kami tetapkan lebih tinggi daripada harga di Tebet. Kebijakan seperti itu kami berlakukan agar Anda “kapok” membeli durian di kebun kami, dan terdorong membelinya ke Tebet. Q: Apakah orang non-Asia, seperti orang Eropa atau Amerika, suka makan durian? A: Pada umumnya tidak, terutama karena baunya yang menyengat. Baunya itu pulalah yang membuat durian dilarang dibawa ke hotel atau dalam penerbangan. Banyak tumbuhan atau buah di daerah tropis yang berbau tajam, karena persaingan yang keras untuk menarik perhatian serangga atau hewan yang akan membantu penyerbukan atau penyebaran bijinya. Sedang di daerah sub tropis, memang jarang yang berbau keras. Sebagian bule yang sudah pernah memakannya mengatakan “Smells like hell, tastes like heaven.” Linschott (1599) dalam laporan perjalanannya menulis: "It is of such an excellent taste that it surpasses in flavour all the other fruits of the world..." Professor Alfred Wallace, ahli botani yang spesialis mempelajari buah tropis sebelum adanya kapal uap menegaskan "the taste of durian is worth the travel to the Far East." Walaupun sudah sejak lama ada bule yang mencicipi dan menyukai durian, sampai sekarang boleh dikatakan jumlah bule penggemar durian masih sedikit. Di akhir tahun 80-an Midian Simanjuntak punya teman sekantor bernama Evan Hassiotis (warga negara Junani, jebolan University of Arizona, Tucson, beristeri orang Amerika, dan bekerja sebagai anggota konsultan Booz Allen & Hamilton). Suatu kali di Palembang, dia didorong-dorong tuan rumah (orang BRI Palembang) agar mencicipi durian, yang sebelumnya selalu dia katakan “skunk” (binatang mirip musang yang mengeluarkan bau busuk). Rupanya setelah cicipan pertama, lidahnya langsung “jatuh cinta” pada rasa durian. Dia melahapnya hingga kenyang sekali, mendekati muntah. Sejak itu, selama musim durian, setiap sore dia singgah ke penjual durian di pinggir jalan Senayan. Sambil melahap daging buah durian dia sering menggumam: “Oh, bloody bule, always says this is a skunk. I have wasted my two precious years not eating this heaven’s fruit. This is the real heaven’s fruit. Oh, I love it!” Isterinya tidak mau diajak ikut makan durian dan tetap tidak tahan terhadap baunya. Hanya satu dari dua putranya yang ikut menjadi maniak durian. Bila dia makan durian, dia dilarang tidur di kamar tidur dan terpaksa tidur di sofa di ruang keluarga. “My wife will not go anywhere. But durian is not available all-year-round,” katanya. Walau dia masih muda (38 tahun), lebih memilih memakan durian dibanding hubungan seks dengan isterinya. Bulan Desember 2005, kami menerima e-mailnya. Setelah pensiun dia menetap di Athens, Georgia, USA. Salah satu 'kehilangan' yang paling dia rasakan sejak meninggalkan Indonesia, 1993, adalah buah durian. Sejak tahun 2002, ada orang Prancis bernama Eric Jean menjadi prime customer kami. Eric Jean makan durian setiap hari, selagi ada, tetapi dia lebih beruntung dan tidak perlu tidur di atas sofa di ruang keluarga, seperti Evan Hassiotis, karena isterinya adalah perempuan Indonesia yang juga penggemar durian. Putrinya yang belum berumur setahun pun sudah diberi makan durian. Baru- baru ini, 22 November 2006, kami berkenalan dengan Prof. em Jacques Kamm, berkebangsaan Switzerland, yang mengaku sangat menyukai buah durian. Kami ramalkan, lambat laun akan semakin banyak orang 'bule' yang suka makan durian. Q: Adakah rencana ekspor Durian Juntak ke luar negeri? A: Hal itu bukannya tidak kami pertimbangkan. Tetapi kami nilai untuk masa yang cukup jauh ke depan, menjual ke pasar lokal masih lebih menguntungkan. Indonesia sendiri masih mengimpor durian dari Thailand dan Malaysia ribuan ton setiap tahun. Perluasan kebun durian hingga puluhan ribu hektar pun belum akan sanggup memenuhi permintaan konsumen kita. Bila biaya pengangkutan melalui udara semakin terus menurun, maka akan semakin feasible untuk merambah pasar luar negeri. Kami ingin tetap menghasilkan durian matang pohon dan enggan beralih ke durian petikan, sehingga hanya menggunakan jasa angkutan udara yang cocok bagi kami. Sudah banyak sekali permintaan dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia yang ingin mencoba produk kami, namun terpaksa masih kami tolak. Mereka ingin mencicipi durian yang benar-benar matang dan bercita-rasa penuh. Produk kami sebenarnya sudah sering dikirim oleh customer ke luar negeri, terutama ke Saudi Arabia. Isi durian yang sudah dingin dimasukkan ke dalam dus styrofoam, dilak, lalu dibungkus dengan kantong plastik tebal dan diikat dengan ketat. Setelah yakin bahwa baunya tidak ada lagi yang keluar, barulah dititipkan kepada teman atau saudara mereka yang akan berangkat ke Tanah Suci. Ketika melayani permintaan seperti itu, tidak jarang kami menerima celutukan, “Wah, durian-nya naik haji, sedang yang punya belum!” Q: Saya tetap lebih menyukai durian impor dari Thailand. Apa komentar Durian Juntak? A: Kami berpegang teguh pada adagium lama, “Pelanggan merupakan Raja." Anda yang memutuskan apa yang ingin anda beli. Lagi pula, masalah selera tidak pantas diperdebatkan, karena tidak akan pernah ada titik temu di antara dua orang yang memiliki selera berbeda. Kami hanya dapat memberi penjelasan yang seobjektif mungkin. Bangkok itu 3.500 km dari Jakarta, yang memerlukan waktu seminggu bagi kapal laut, sementara durian jatuhan hanya tahan 2 hingga 5 hari sebelum retak karena terlalu matang. Agar lebih tahan lama, tidak merekah atau busuk dalam perjalanan, durian dari Thailand senantiasa dipetik sebelum matang pohon. Proses durian dari Thailand hingga ke Jakarta misalnya adalah sebagai berikut: Dipetik oleh pekebun lalu dikumpulkan ―› dijual kepada pedagang dan disortir ―› diteruskan kepada eksportir ―› packing dan pemeriksaan oleh karantina ―› menunggu kapal pengangkut ―› dalam perjalanan laut ―› tiba di Tanjung Priok ―› pembongkaran muatan dan pemeriksaan oleh karantina ―› pengurusan pengeluaran dari pelabuhan ―› pengangkutan ke gudang atau cold storage ―› dan setelah negosiasi akan diangkut ke toko buah atau supermarket. Waktu yang diperlukan untuk semua itu diperkirakan minimal dua minggu. Ada juga yang diangkut dengan pesawat terbang dan mutunya lebih baik (lebih mendekati matang pohon), tetapi harganya menjadi jauh lebih tinggi. Kami juga menyadari bahwa banyak orang yang beranggapan bahwa mutu barang impor selalu lebih baik daripada produk lokal. Anggapan itu berdasarkan kenyataan sehari-hari, terutama bagi produk manufacturing. Tetapi khusus bagi durian, yang bukan produk manufacturing, anggapan seperti itu jelas salah dan tidak berlaku. Keunggulan durian kami bukan karena proses produksi atau quality control yang lebih baik, tetapi karena cara panen yang berbeda: Durian impor terpaksa petikan sedang durian kami matang pohon atau jatuhan. Suatu kali, seorang penelpon mengatakan kepada kami bahwa dia tidak percaya durian kami lebih baik dari durian impor. Katanya, orang Thailand sudah terkenal paling jago dalam memelihara durian. Alasan yang selalu kami kemukakan membuat mutu durian kami lebih baik dari durian impor adalah karena durian kami jatuhan, sedang durian impor adalah petikan. Tidak ada sangkut pautnya dengan kepiawaian kami dibanding pekebun durian di Thailand dalam hal memelihara durian. Q: Apa dasar keyakinan Durian Juntak bahwa produk-nya lebih baik dari durian impor? A: Dengan perasaan getir, harus kami akui bahwa mutu kebanyakan produk lokal Indonesia seringkali lebih rendah dari mutu produk impor. Namun dalam hal buah durian ini, justru kami ingin membuktikan kebalikannya. Penyebabnya tidak lain adalah sifat produk itu sendiri yang tidak tahan lama disimpan. Kebun Durian Juntak hanya 63 km dari kediaman kami, yang dapat ditempuh paling lama 2 jam dengan kendaraan beroda empat. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi kami untuk memetik durian agar lebih tahan dalam perjalanan, seperti durian Thailand atau Malaysia. Memetik durian sebelum matang pohon, bagaimana pun sama dengan memberhentikan proses biologis yang seharusnya masih terus terjadi dalam buah tersebut. Bagi durian yang dipetik, proses penyempurnaan berbagai elemen kimiawi akan terhenti karena sudah terputus dari induknya. Tidak heran bila aroma durian impor tidak setajam durian matang pohon kami. Bagi yang menyukai durian yang memiliki “rasa pahit,” hanyalah dapat menemukannya pada durian Monthong jatuhan. |
|
Kirim email kepada
durian@juntak.com bila
mempunyai pertanyaan maupun komentar mengenai web-site ini.
|